Sabtu, 01 Juni 2013

STUDI KASUS MANAJEMEN - MANAJERIAL IMPLICATORS

WHEN YOUR STAR PERFORMER CAN’T MANAGE
    
   Vic, seorang CEO dari perusahaan barang-barang olahraga dalam kasus fiksi ini, sangat menyukai angka-angka. Untuk beberapa tahun sekarang, mereka telah memantapkan diri dalam satu tujuan: Naik. Tapi ada masalah yang terjadi. Tersembunyi dari pandangan publik industri dari snowboard yang paling dingin sampai skate paling panas -  disanalah terdapat sebuah departemen pengembangan produk yang mungkin saja siap untuk membawa kehancuran seperti menghancurkan sebuah fiberglass murahan.
   Ada satu alasan khusus yang menjadi penyebab ributnya pembicaraan orang-orang yang dengan berkala terus menggerogoti Vic, dan namanya adalah Linus Carver, ketua pengembangan produk perusahaan,  seorang jenius penggila kerja yang bertanggung jawab atas semua masalah yang terjadi. Dia mengelola semuanya dan telah berhasil mengasingkan beberapa karyawannya, termasuk bagi dua karyawan muda generasi X yang dibawanya masuk. Vic telah terbebani semua hal mulai dari pencurian ide-ide sampai jatuhnya inisiatif tim yang masih tersisa.
   Dari jabatannya sebagai CEO, Vic selalu memberikan penekanan kata Tim. Dan dia bahkan telah melakukan  beberapa  cara untuk mengendalikan perilaku Carver – langkah terbarunya adalah memberikan rekomendasi kepada karyawan bintangnya itu untuk mendapatkan pelatihan. Tapi vic selalu mengetahui siapa yang dia hadapi. Singkatnya, dia sangat bingung.
 
QUESTION:
    
   Bagaimana Vic bisa menjaga keutuhan tim pengembangan produk dan penjualannya tetap kuat?
 
ANSWER:
    
   Sebagai seorang manajer tertinggi, memiliki bawahan yang juga seorang manajer yang harus diawasi dan dikontrol tidak jauh berbeda dari mengontrol karyawan sendiri. Manajer pun memiliki banyak kepribadian, mulai dari yang karismatik, paternialistis, militeristik, dminator, populistis, administratif sampai demokratis. Nah, untuk menghadapi manajer yang dominator, merasa paling benar dan tidak menghargai pendapat bawahan serta bisanya mengkritik, merevisi, lalu mengatakan semua ide orisinil darinya, maka pendekatannya dilakukan kepada manajer serta karyawan. Untuk manajer, seperti biasa, melalui pendekatan formal (coaching) dan informal (nasehat). Sedangkan khusus pada karyawan adalah dengan cara mengubah mindset mereka. Sadarkan mereka tentang alasan yang membuat manajernya berbuat demikian. Alasan-alasan itu antara lain, karyawan mungkin terlalu banyak bertanya. Karyawan jenis ini justru akan semakin membuat dirinya terlihat bodoh dan tidak bisa apa-apa. Yang kedua, karyawan yang lebih suka membawa masalah daripada solusi. Maksudnya, karyawan jenis ini sebelum mencari solusi untuk masalah yang dihadapinya, dia justru langsung membawanya pada sang manajer. Yang ketiga, karyawan yang terlalu memilih minta maaf daripada berusaha untuk bekerja lebih baik atau memperbaiki kesalahannya. Yang keempat, karyawan yang terlalu emosional dan membesar-besarkan masalah sehingga manajer semakin tidak respek padanya. Yang kelima, karyawan yang bekerja apa adanya. Artinya, jika ingin disorot oleh manajer, lakukanlah lebih dari apa yang biasa dilakukan. Yang keenam, minta dan berilah feedback atau umpan balik, puji-pujian sederhana atau masukan-masukan akan menjaga hubungan antar karyawan dan manajer. Yang ketujuh, karyawan yang terlalu banyak mengeluh, sehingga merusak suasana lingkungan kerja, dan yang terakhir adalah karyawan yang pasif. Maksudnya, jadilah karyawan yang proaktif, dan ikutlah bertanggungjawab atas ide-ide yang disampaikan. Jadi, jika alasan-alasan tersebut bisa dihindari, maka baik karyawan ataupun manajer tidak akan memiliki alasan untuk tidak bekerja dengan senang hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar