Sabtu, 01 Juni 2013

STUDI KASUS MANAJEMEN - MANAJERIAL IMPLICATORS

WHEN YOUR STAR PERFORMER CAN’T MANAGE
    
   Vic, seorang CEO dari perusahaan barang-barang olahraga dalam kasus fiksi ini, sangat menyukai angka-angka. Untuk beberapa tahun sekarang, mereka telah memantapkan diri dalam satu tujuan: Naik. Tapi ada masalah yang terjadi. Tersembunyi dari pandangan publik industri dari snowboard yang paling dingin sampai skate paling panas -  disanalah terdapat sebuah departemen pengembangan produk yang mungkin saja siap untuk membawa kehancuran seperti menghancurkan sebuah fiberglass murahan.
   Ada satu alasan khusus yang menjadi penyebab ributnya pembicaraan orang-orang yang dengan berkala terus menggerogoti Vic, dan namanya adalah Linus Carver, ketua pengembangan produk perusahaan,  seorang jenius penggila kerja yang bertanggung jawab atas semua masalah yang terjadi. Dia mengelola semuanya dan telah berhasil mengasingkan beberapa karyawannya, termasuk bagi dua karyawan muda generasi X yang dibawanya masuk. Vic telah terbebani semua hal mulai dari pencurian ide-ide sampai jatuhnya inisiatif tim yang masih tersisa.
   Dari jabatannya sebagai CEO, Vic selalu memberikan penekanan kata Tim. Dan dia bahkan telah melakukan  beberapa  cara untuk mengendalikan perilaku Carver – langkah terbarunya adalah memberikan rekomendasi kepada karyawan bintangnya itu untuk mendapatkan pelatihan. Tapi vic selalu mengetahui siapa yang dia hadapi. Singkatnya, dia sangat bingung.
 
QUESTION:
    
   Bagaimana Vic bisa menjaga keutuhan tim pengembangan produk dan penjualannya tetap kuat?
 
ANSWER:
    
   Sebagai seorang manajer tertinggi, memiliki bawahan yang juga seorang manajer yang harus diawasi dan dikontrol tidak jauh berbeda dari mengontrol karyawan sendiri. Manajer pun memiliki banyak kepribadian, mulai dari yang karismatik, paternialistis, militeristik, dminator, populistis, administratif sampai demokratis. Nah, untuk menghadapi manajer yang dominator, merasa paling benar dan tidak menghargai pendapat bawahan serta bisanya mengkritik, merevisi, lalu mengatakan semua ide orisinil darinya, maka pendekatannya dilakukan kepada manajer serta karyawan. Untuk manajer, seperti biasa, melalui pendekatan formal (coaching) dan informal (nasehat). Sedangkan khusus pada karyawan adalah dengan cara mengubah mindset mereka. Sadarkan mereka tentang alasan yang membuat manajernya berbuat demikian. Alasan-alasan itu antara lain, karyawan mungkin terlalu banyak bertanya. Karyawan jenis ini justru akan semakin membuat dirinya terlihat bodoh dan tidak bisa apa-apa. Yang kedua, karyawan yang lebih suka membawa masalah daripada solusi. Maksudnya, karyawan jenis ini sebelum mencari solusi untuk masalah yang dihadapinya, dia justru langsung membawanya pada sang manajer. Yang ketiga, karyawan yang terlalu memilih minta maaf daripada berusaha untuk bekerja lebih baik atau memperbaiki kesalahannya. Yang keempat, karyawan yang terlalu emosional dan membesar-besarkan masalah sehingga manajer semakin tidak respek padanya. Yang kelima, karyawan yang bekerja apa adanya. Artinya, jika ingin disorot oleh manajer, lakukanlah lebih dari apa yang biasa dilakukan. Yang keenam, minta dan berilah feedback atau umpan balik, puji-pujian sederhana atau masukan-masukan akan menjaga hubungan antar karyawan dan manajer. Yang ketujuh, karyawan yang terlalu banyak mengeluh, sehingga merusak suasana lingkungan kerja, dan yang terakhir adalah karyawan yang pasif. Maksudnya, jadilah karyawan yang proaktif, dan ikutlah bertanggungjawab atas ide-ide yang disampaikan. Jadi, jika alasan-alasan tersebut bisa dihindari, maka baik karyawan ataupun manajer tidak akan memiliki alasan untuk tidak bekerja dengan senang hati.
STUDI KASUS MANAJEMEN - MANAJERIAL IMPLICATORS
 
WHAT A STAR – WHAT A JERK   
 
   Setelah tugas yang panjang dalam bagian konsultasi, Jane Epstein akhirnya menjadi seorang manajer di techniCo. Dia sedang mencoba memahami tentang kepribadian dan tugas-tugas teman kerjanya yang baru,  dan kemungkinan besar, dia akan mendapatkan tim yang cukup bagus.  Beberapa orang memiliki modal sosial yang bagus; lainnya terlihat mencoba untuk menjadi Sales Person yang alami. Beberapa hal tentang Andy Zimmerman,  bagaimanapun, membuatnya khawatir.
   Saat pertama kali, dia tidak bisa mengacungkan jempol padanya – mungkin dia sedikit terlalu agresif. Tapi seiring berjalannya waktu, dia melihat Andy terus menerus mencoba menunjukkan kelebihan dirinya lagi dan lagi. Dia bahkan mencibir asisten administrasi untuk sebuah kesalahan kecil,  dia meremehkan teman-temannya dan membuat mereka merasa kecil dan bodoh. Tapi Andy memiliki sisi lain: Dia selalu benar, dan sangat baik dalam pekerjaannya. Manajer lain berkata pada Jane, “orang itu takkan pernah memenangkan kontes kepribadian, tapi kau akan menyukai angka-angkanya.” Faktanya, dalam hal kinerja, dia adalah yang terbaik yang Jane pernah dapatkan. Dia gila jika tidak menginginkannya dalam kelompoknya.
   Dan sebelumnya, dia tidak dapat menyangkal bahwa perilaku Andy telah melemahkan moral dan menyakiti kinerja tim keuangan. Sekarang Jane merasa frustasi. Saat dia meninggalkan pekerjaan konsultasinya untuk pekerjaan ini, dia berharap untuk fokus pada angka-angka, produk-produk dan pelanggan-pelanggan.  Justru, dia malah menemukan bahwa isu orang-orang mengenai hal itu telah mengambil banyak waktunya.
   Studi kasus fiksi ini menjelaskan suatu dinamika yang terjadi, dimana seorang pemain bintang memiliki kepribadian yang tidak baik.
 
QUESTION:
    
   Bagaimana Jane bisa memperbaiki perilaku buruk Andy tanpa melukai tim-tim bawah?
 
ANSWER:
    
   Orang perfeksionis memang memiliki banyak kelebihan, mereka sangat detail, pekerja keras, mengejar kesempurnaan, disiplin, rapi, ulet, terecana dan sebagainya. Jika dipikir-pikir, mereka bisa menjadi teman kerja yang baik, tapi juga bisa sebaliknya. Orang perfeksionis tak menerima kesalahan, tukang kritik, sehingga mereka cenderung tidak bisa bekerjasama, menyebalkan dan tidak dewasa, seperti Andy Zimmerman. Semakin mengenal seorang perfeksionis, kekurangannya akan semakin tampak. Standar mereka sangat tinggi, hingga mereka tidak bisa memenuhinya sendiri, mereka memiliki pola pikir yang jauh kedepan melampaui manusia dengan pola pikir standar hingga tak ada yang nyambung dengannya, mereka ingin mengkritik tapi tidak ingin dikritik, dan yang paling penting terkadang mereka suka mengurusi hal-hal yang tidak penting sehingga melupakan urusan yang lebih penting. Di dalam perusahaan, tidak peduli apakah mereka dominan atau resesif, yang paling penting adalah mereka bisa bekerjasama dengan baik, menghargai pendapat orang lain, tidak ingin menang sendiri, serta kalau perlu jangan dominan. Intinya, orang perfeksionis sebenarnya sulit tumbuh dewasa, sehingga karakternya tidak bertumbuh. Sebagai manajer, untuk menghadapi orang-orang seperti ini adalah dengan memberikannya nasehat atau pendekatan personal kepadanya agar dia mau mengubah sikapnya, jika tidak berhasil maka sebaiknya dia direkomendasikan untuk di coaching, dan jika itupun gagal, maka jalan terakhir adalah dengan pemberian sanksi betahap sampai pemecatan. Hal ini tidak lepas dari hakikat perusahaan yang tidak membutuhkan tenaga individu melainkan kelompok, agar koordinasi dalam perusahaan tetap berlangsung baik.

Rabu, 01 Mei 2013

PERBEDAAN ISOCOST DAN ISOQUANT
 
Apa perbedaan isocost dan isoquant? Apa pula persamaan dan perbedaan isoquant dan kurva indiferen?

Jawab:

Perbedaannya adalah jika Isocost merupakan kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi antara dua input berbeda yang dapat dibeli oleh produsen pada tingkat biaya yang sama. Sementara Isoquant adalah kurva yang menunjukkan kombinasi input yang dipakai dalam proses produksi, yang menghasilkan output tertentu dalam jumlah yang sama.

Persamaan antara Isoquant dengan Kurva Indiferen (IC Curve) adalah: 

(a) kurva menurun dari kiri atas ke kanan bawah; 
(b) cembung ke arah titik origin; 
(c) tidak saling berpotongan. 

Perbedaan antara Isoquant dengan Indiferen ialah nilai isoquant dapat diperhitungkan sementara indiferen nilainya tidak dapat diperhitungkan secara pasti.

BIAYA (TEORI PRODUKSI)

Biaya Total (Total Cost) / TC
 
Biaya total merupakan jumlah keseluruhan biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
 
Biaya total dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
 
TC = FC + VC
Dimana FC = Fix Cost; VC = Variabel Cost.
Contoh:
 
Diketahui : FC = Rp 120.000,00 VC = Rp 240.000,00
Ditanya : TC = …
 
Jawab: 

TC = FC + VC
= 120.000 + 240.000
= 360.000
 
Biaya Variabel (Variabel Cost) / VC
 
Biaya variabel merupakan biaya yang berubah secara linier sesuai dengan volume output operasi perusahaan. Sebagai contoh adalah biaya pulsa telepon bulanan, biaya pengeluaran untuk upah dan bahan baku.
 
Biaya variabel dapat dihitung dari penurunan rumus menghitung biaya total, yaitu: 

TC = FC + VC atau VC = TC - FC 

Contoh:
 
Diketahui: FC = 120.000 TC = 480.000
Ditanya : VC = …
 
Jawab: 

TC = FC + VC
480.000 = 120.000 + VC
VC = 480.000 – 120.000
= 360.000
 
Biaya Tetap (Fixed Cost) / FC
 
Biaya tetap merupakan biaya yang tidak berubah mengikuti tingkat produksi. Sebagai contoh adalah biaya peneliharaan pabrik dan asuransi, biaya abonemen telepon bulanan. Biaya tetap dapat dihitung sama seperti biaya variabel, yaitu dari penurunan rumus menghitung biaya total. Penuruanan rumus tersebut, adalah: 

TC = FC + VC atau FC = TC – VC
 
Contoh:
 
Diketahui: VC = 600.000 TC = 720.000
Ditanya : FC = …
 
Jawab: 

TC = FC + VC
720.000= FC + 600.000
FC = 720.000 – 600.000
= 120.000
 

Biaya Total Rata-Rata (Average Total Cost) / ATC
 
Biaya total rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya total (TC) untuk memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi oleh perusahaan. Biaya total rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, 

ATC = AFC + AVC
 
Contoh:
 
Diketahui: TC = 360.000 Q = 3
AFC = 40.000 AVC = 80.000
Ditanya : ATC = …
 
Jawab: 

ATC = ATC = AFC + AVC
= atau = 40.000 + 80.000
= 120.000 = 120.000
 
Dengan menggunakan kedua rumus di atas, maka telah diketahui bahwa hasilnya adalah sama, yaitu Rp 120.000,00.
 
Biaya Variabel Rata-Rata (Average Variabel Cost) / AVC
 
Biaya variabel rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya variabel (VC) untuk memproduksi sejumlah baran (Q) dibagi dengan jumlah produksi tertentu. Biaya variabel rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, yaitu: 

AVC = ATC - AFC (lihat contoh di atas)
 
Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost) / AFC
 
Biaya tetap rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya tetap (FC) untuk memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi tersebut. Biaya tetap rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 

AFC = ATC - AVC (lihat contoh diatas)

Biaya Marginal (Marginal Cost) / MC
 
Biaya marginal dapat juga dikatakan sebagai biaya pertambahan (incremental cost). Biaya marginal merupakan kenaikan biaya produksi yang dikeluarkan untuk menambah produksi sebanyak satu unit keluaran tambahan. MC adalah turunan pertama dari TC atau C. Biaya marginal dapat dihitung dengan menggunakan rumus: 

MC = TC’ = dTC / dQ
Contoh :
C = 4 + 2Q + Q2 
MC = …
Jawab :
MC = C’
= 2 + 2Q
Maka, TC minimum tercapai pada saat MC = 0 dan MC minimum tercapai pada saat MC’ = 0.

 
Biaya Kesempatan (Opportunity Cost) / OC
 
Biaya kesempatan merupakan biaya atas kesempatan yang dilepas dengan tidak menempatkan sumber daya perusahaan pada nilai pemanfaatan tertingginya atau merupakan pendapatan biaya yang dikorbankan sebagai akibat kita memilih alternatif tertentu.
 
Contoh:
 
Apabila Ali kuliah sampai selesai di universitas LP3I, maka pendapatan yang diperkirakan adalah Rp 700.000,00/bulan. Sedangkan apabila tidak kuliah dan memutuskan untuk meneruskan usaha ayahnya, maka pendapatan yang diperkirakan adalah Rp 2.000.000,00. Bila akhirnya memilih meneruskan usaha ayahnya maka biaya kesempatan yang dikorbankannya adalah Rp 700.000,00.

Selasa, 30 April 2013

FUNGSI BIAYA (COST) DAN PENERIMAAN (REVENUE)

Fungsi biaya merupakan hubungan antara biaya dengan jumlah produksi yang dihasilkan. Fungsi biaya dapat digambarkan ke dalam kurva dan kurva biaya menggambarkan titik-titik kemungkinan besarnya biaya di berbagai tingkat produksi. 

Dalam membicarakan biaya ada beberapa macam biaya, yaitu:
 

a. Biaya Total ( Total Cost = TC = C)
b. Biaya Variabel (Variable Cost = VC)
c. Biaya Tetap (Fixed Cost = FC)
d. Biaya Total Rata-Rata (Average Total Cost = AC)
e. Biaya Variabel Rata Rata ( Average Variable Cost = AVC)
f.  Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost = AFC)
g. Biaya Marginal

 

Rumus :
 

1. C = AC x Q  atau C = FC + VC
2. FC = AFC X Q
3. VC = AVC  X Q

      

Dalam menganalisa biaya umumnya tidak terlepas dari analisa penerimaan atau revenue atau total revenue. Pengertian revenue atau penerimaan adalah seluruh pendapatan yang diterima dari hasil penjualan barang pada tingkat harga tertentu. 

1. Total Penerimaan (TR) dirumuskan TR = PQ. TR = Penerimaan Total, P = Harga Barang dan Q = Jumlah barang yang dijual.
 

2. Penerimaan Rata-rata (AR) adalah penerimaan rata-rata tiap unit produksi, dapat dirumuskan AR = TR/Q

3. Penerimaan Marginal atau Marginal Revenue adalah tambahan penerimaan sebagai akibat dari tambahan produksi, dirumuskan MR = ∆TR/∆Q. MR = Marginal Revenue,  ∆TR = Tambahan penerimaan,  ∆Q = Tambahan Produksi. 

Berdasarkan konsep penerimaan dan biaya (TR dan TC)  dapat diketahui beberapa kemungkinan diantaranya :
 

TR < TC  = keadaan untung / laba
TR= TC   = keadaan  Break Even Point
TR > TC  = Keadaan rugi.
 

Contoh Soal:
 

Sebuah pabrik Sandal dengan Merk "Idaman" mempunyai biaya tetap (FC) = 1.000.000; biaya untuk membuat sebuah sandal Rp 500; apabila sandal tersebut dijual dengan harga Rp 1.000, maka:
 

Ditanya:
 

a. Fungsi biaya total (C), fungsi penerimaan total ( TR) dan Variable Cost.
b. Pada saat kapan pabrik sandal mencapai BEP
c. Untung atau rugikah apabila memproduksi 9.000 unit

 

Jawab:
 

a. FC = Rp 1.000.000
    VC= Rp 500.
    Fungsi biaya variabel VC = 500  Q

    Fungsi biaya total C = FC + VC  >>>  C = 1.000.000 + 500 Q
    Fungsi penerimaan total  TR = P.Q >>> TR = 1.000 Qb. 
    Break Even Point terjadi pada saat TR = TC
    1.000 Q  = Rp 1.000.000 + 500 Q
    1.000 Q - 500 Q = 1.000.000
    500 Q = 1.000.000
    Q = 2.000 unit
    Pabrik roti akan  mengalami BEP pada saat Q = 2.000 unit
    Pada biaya total  C = 1.000.000 + 500 ( 2.000)
                              C = 2.000.000

c. Pada saat memproduksi Q = 9000 unit
    TR = P.Q
          = 1.000  X  9.000
          = 9.000.000

    C  = 1.000.000 + 500 (Q)
         = 1.000.000 + 500 ( 9.000)
         = 1.000.000 + 4500.000
         = 5.500.000

    Bila  TR > TC, maka keadaan laba / untung.
    laba = TR - TC
           = 9.000.00 - 5.500.000
           = 3.500.000

    Bila hanya memproduksi 1.500 unit maka akan mengalami kerugian sebesar :
    Rugi = TR - TC
            = 1.000 (1.500)  - 1.000.000 + 500 ( 1.500)
            = 1.500.000 - 1.750.000
            = 250.000
EFEK MULTIPLIER (MULTIPLIER EFFECT)

Efek Multiplier adalah Efek dalam ekonomi di mana peningkatan pengeluaran nasional mempengaruhi pendapatan dan konsumsi menjadi lebih tinggi dibandingkan jumlah sebelumnya. Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan membangun pabrik, maka mereka akan mempekerjakan pekerja konstruksi untuk bekerja di pabrik. Secara tidak langsung, pabrik baru itu akan mempengaruhi restoran, binatu dan industri jasa yang berada di sekitar pabrik.

Contoh:
 
Efek Multiplier / Efek Pengganda yang paling populer saat ini adalah Pengganda Pajak, Pengganda Investasi, dan Pengganda Belanja Pemerintah. Lalu bagaimana hal tersebut mempengaruhi pendapatan Nasional?

Yang pertama yaitu pajak, apa pengaruh perubahan pajak terhadap pendapatan nasional? Tentunya kita sekalian tahu bahwa Pajak akan mengurangi konsumsi masyarakat yang dilambangkan dengan variabel "C" dalam rumus  pendapatan nasional Y = C + I + G. Pertambahan pajak akan mengurangi konsumsi begitupun sebaliknya, penurunan pajak akan menaikkan konsumsi dan akan meningkatkan pendapatan nasional.

Selanjutnya adalah perubahan dalam Investasi dan Belanja Pemerintah yang dilambangkan dalam variabel I dan G. Hal ini akan jelas terlihat bahwa pertambahan Investasi dan Pengeluaran Pemerintah akan meningkatkan pendapatan nasional begitupun sebaliknya.
Selanjutnya, kita memiliki rumus pendapatan nasional sebagai berikut:

Y = C + I + G

Selanjutnya, kita juga memiliki fungsi konsumsi oleh J. M. Keynes seperti berikut:

C = a + b (DI)
Dimana C adalah konsumsi, a adalah konsumsi saat pendapatan = 0, b adalah MPC, dan DI adalah disposable income yang didapat dari Pendapatan dikurangi Pajak (DI = Y -T).
Sehingga kita dapat Fungsi Konsumsi secara lengakap:

C = a + b (Y-T)

Setelah mendapatkan rumus-rumus diatas, kita substitusikan pada rumus Pendapatan Nasional dimana:

Y = C + I + G

Y = a + b (Y-T) + I + G


Y= a + bY - bT + I + G


Y - bY = a - bT + I + G


Y(1-b) = a - bT + I + G

Rumus terakhir kita dapat:
  
Y = (a / (1-b)) - ( b / b-1) T + ( 1 / (1 - B)) I + (1 / (1-b)) G

Setelah mendapatkan rumus terakhir ini, maka dapat kita peroleh rumus pengganda pajak:

Pengganda Pajak = -MPC/(1-MPC)

Jadi, setiap penambahan 1 rupiah dalam pajak, akan menurunkan pendapatan nasional sebesar MPC/(1-MPC). misal MPC sebesar 0,8 maka penambahan pajak sebesar 1 rupiah akan menyebabkan penurunan pendapatan nasional sebesar 4 rupiah.
 

Sama halnya dengan pengganda Investasi dan pengganda pengeluaran pemerintah, tanpa melihat variabel lain berubah, didapat bahwa:
Pengganda investasi = 1 / (1 - MPC)


Pengganda Pengeluaran Pemerintah = 1 / (1 - MPC)

Asumsikan bahwa MPC sebesar 0,5. jadi tiap investasi bertambah sebesar 1 rupiah, maka akan terjadi penambahan pendapatan nasional sebesar 5 rupiah. tiap penambahan 1 rupiah dalam pengeluaran pemerintah akan meningkatkan pendapatan nasional sebesar 5 rupiah.
MULTIPLIER

Multiplier adalah suatu faktor yang mengukur berapa banyak perubahan suatu variabel endogen sebagai akibat perubahan variabel eksogen.

Ingat kembali variabel eksogen dan endogen: 

Variabel Eksogen (exogenous) adalah variabel yang dianggap memiliki pengaruh terhadap variabel yang lain, namun tidak dipengaruhi oleh variabel lain dalam model.
Variabel Endogen (endogenous) adalah variabel yang dianggap dipengaruhi oleh variabel lain dalam model.

Contoh Model:

a. ”Cara Mengajar Dosen” adalah A, ”Motivasi Belajar Mahasiswa” adalah B, dan ”Proses Belajar Mahasiswa” adalah C.

b. ”Cara Mengajar Dosen” karena tidak dipengaruhi oleh variabel yang lain adalah Variabel Eksogen.

c. ”Motivasi Belajar Mahasiswa” adalah Variabel Endogen, karena dipengaruhi oleh variabel ”Cara Mengajar Dosen. ”Proses Belajar Mahasiswa” juga Variabel Endogen karena dipengaruhi oleh ”Motivasi Belajar Mahasiswa”

Contoh Model dalam kasus ekonomi:

Perhatikan pernyataan berikut: “Harga beras di Jawa Barat tergantung kepada keadaan iklim di daerah penanaman padi di Jawa Barat”. Harga beras adalah variabel endogen karena perubahannya dipengaruhi oleh vaiabel lain dalam pernyataan itu, yaitu iklim. Iklim yang buruk mengurangi produksi dan ini akan menaikkan harga. Variabel yang kedua yaitu iklim, adalah variabel yang eksogen, karena ia tidak dipengaruhi oleh harga tetapi oleh faktor-faktor yang tidak dinytakan dalam teori tersebut.

Variabel endogen adalah variabel yang sifatnya diterangkan dalam teori terebut. Sedangkan variabel eksogen adalah variabel yang mempengaruhi variabel endogen tetapi ia ditentukan oleh faktor-faktor yang berada di luar teori tersebut. Untuk lebih memahami perbedaan kedua variabel tersebut perhatikan pernyataan berikut: “Harga beras di Jawa Barat tergantung kepada keadaan iklim di daerah penanaman padi di Jawa Barat”. Harga beras adalah variabel endogen karena perubahannya dipengaruhi oleh vaiabel lain dalam pernyataan itu, yaitu iklim. Iklim yang buruk mengurangiproduksi dan ini akan menaikkan harga. Variabel yang kedua yaitu iklim, adalah variabel yang eksogen, kerana ia tidak dipengaruhi oleh harga tetapi oleh faktor-faktor yang tidak dinytakan dalam teori tersebut.

Anda baru saja mencopy artikel di Blog Menara Ilmu dengan judul Sifa-Sifat Teori Ekonomi .Jika anda ingin menggandakan artikel ini, sertakan URL berikut sebagai sumber : http://menarailmuku.blogspot.com/2012/12/sifa-sifat-teori-ekonomi.html
Variabel endogen adalah variabel yang sifatnya diterangkan dalam teori terebut. Sedangkan variabel eksogen adalah variabel yang mempengaruhi variabel endogen tetapi ia ditentukan oleh faktor-faktor yang berada di luar teori tersebut. Untuk lebih memahami perbedaan kedua variabel tersebut perhatikan pernyataan berikut: “Harga beras di Jawa Barat tergantung kepada keadaan iklim di daerah penanaman padi di Jawa Barat”. Harga beras adalah variabel endogen karena perubahannya dipengaruhi oleh vaiabel lain dalam pernyataan itu, yaitu iklim. Iklim yang buruk mengurangiproduksi dan ini akan menaikkan harga. Variabel yang kedua yaitu iklim, adalah variabel yang eksogen, kerana ia tidak dipengaruhi oleh harga tetapi oleh faktor-faktor yang tidak dinytakan dalam teori tersebut.

Anda baru saja mencopy artikel di Blog Menara Ilmu dengan judul Sifa-Sifat Teori Ekonomi .Jika anda ingin menggandakan artikel ini, sertakan URL berikut sebagai sumber : http://menarailmuku.blogspot.com/2012/12/sifa-sifat-teori-ekonomi.html